Abjadiyat Fiqh Ibadah: Huruf Alif; Iman dan Islam sebagai Pondasi Ibadah

TAAQI (Tadabbur Ayat Akhlak Qurani)

Huruf Alif (أ) dalam Abjadiyat Ibadah melambangkan permulaan, ketegakan, dan fondasi. Dalam konteks ibadah, Alif merepresentasikan الإيمان (Iman) dan الإسلام (Islam) sebagai akar eksistensial seluruh amal ibadah. Tanpa iman dan islam, ibadah kehilangan makna, legitimasi, dan nilai di sisi Allah ﷻ.

Pertama: الإيمان (Iman)

Makna Iman
Secara bahasa, iman berasal dari kata أمن yang bermakna pembenaran dan ketenangan.
Secara istilah Ahlus Sunnah:
الإيمان قول باللسان، وتصديق بالجنان، وعمل بالأركان
“Iman adalah ucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pengamalan dengan anggota badan.”¹
Dengan demikian, iman memiliki dimensi aqidah (keyakinan), ibadah (amal), dan akhlak (perilaku).

Dalil Al-Qur’an tentang Iman sebagai Dasar Ibadah
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu.” (QS. البقرة [2]: 21)²
Ayat ini menegaskan bahwa seruan ibadah selalu diawali dengan iman, menunjukkan bahwa iman adalah pra-syarat spiritual bagi sahnya penghambaan.

Iman dalam Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis Jibril:
«الإيمان أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره»
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk.” (HR. مسلم)³
Hadis ini menjadi kerangka teologis iman yang menopang seluruh bentuk ibadah.

Perkataan Ulama tentang Relasi Iman dan Amal

Imam al-Bukhārī menyatakan:
لقيت أكثر من ألف رجل… يقولون: الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص
“Aku bertemu lebih dari seribu ulama, mereka semua berkata: iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”⁴
Artinya, ibadah adalah manifestasi iman, dan kualitas ibadah mencerminkan kualitas iman.

Kedua: الإسلام (Islam)

Makna Islam
Secara bahasa, Islam bermakna الانقياد والاستسلام (ketundukan dan kepasrahan).

Makna Etimologis Kata Islam (الإسلام)
Kata Islam berasal dari akar kata س–ل–م (s-l-m) yang mengandung makna dasar keselamatan, kedamaian, kemurnian, dan ketundukan. Para ulama bahasa dan aqidah menjelaskan bahwa berbagai derivasi dari akar kata ini menggambarkan hakikat Islam sebagai agama ibadah yang menyeluruh.

1. Islam – سِلْم / سِلْمُو (Silmu): Damai
Makna السِّلْم menunjukkan kedamaian, rekonsiliasi, dan ketiadaan konflik. Islam sebagai agama mengarahkan manusia pada kedamaian dengan Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
Dalil Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. البقرة [2]: 208)5
Ibn Kathīr menjelaskan bahwa al-silm dalam ayat ini bermakna al-Islām, yakni agama yang membawa perdamaian lahir dan batin.6
Implikasi Ibadah: Ibadah dalam Islam bukan sekadar ritual, tetapi sarana menghadirkan ketenangan (ṭuma’nīnah) dan harmoni kehidupan.

2. Islam – سلامة (Salāmah): Selamat
Makna السَّلَامَة menunjukkan keselamatan dari kebinasaan, azab, dan penyimpangan. Islam membimbing manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Dalil Al-Qur’an:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ
“Allah mengajak (manusia) ke negeri keselamatan.” (QS. يونس [10]: 25)7
Menurut al-Qurṭubī, Dār al-Salām adalah surga, dan dinamakan demikian karena penghuninya selamat dari segala bentuk penderitaan.8
Implikasi Ibadah:
Setiap ibadah dalam Islam diarahkan sebagai jalan keselamatan dari murka Allah.

3. Islam – سليم (Salīm): Bersih dan Murni
Makna السَّلِيم menunjukkan kemurnian dan kebersihan, terutama kebersihan hati dari syirik dan penyakit batin.
Dalil Al-Qur’an:
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. الشعراء [26]: 89)9
Al-Ghazālī menegaskan bahwa ibadah tanpa pembersihan hati hanya akan melahirkan bentuk tanpa ruh.10
Implikasi Ibadah:
Fiqh ibadah harus selalu disertai tazkiyat al-nafs, bukan sekadar sah secara hukum.

4. Islam – سلام (Salām): Sejahtera
Makna السَّلَام menunjukkan kesejahteraan, ketenteraman, dan keamanan berkelanjutan. Islam adalah agama yang menebarkan kesejahteraan, bukan kekerasan.
Dalil Al-Qur’an:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ
“Dialah Allah… Yang Maha Sejahtera.” (QS. الحشر [59]: 23)11
Karena Allah adalah al-Salām, maka ibadah sejati akan memancarkan nilai rahmah dan kesejahteraan sosial.

5. Islam – استسلام (Istislām): Ketundukan dan Ketaatan
Makna الاستسلام adalah penyerahan total dan kepatuhan mutlak kepada perintah Allah ﷻ.
Dalil Al-Qur’an:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat ihsan, maka sungguh ia telah berpegang pada tali yang kokoh.” (QS. لقمان [31]: 22)12
Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa hakikat ibadah adalah kesempurnaan ketundukan yang disertai cinta.13

Sintesis Makna Islam dalam Fiqh Ibadah

Dari kelima derivasi tersebut, Islam mencerminkan:
1. Damai (السلم)
2. Selamat (السلامة)
3. Bersih (سليم)
4. Sejahtera (سلام)
5. Tunduk dan taat (استسلام)
Kelima makna ini bersatu membentuk kerangka filosofis ibadah dalam Islam:
Ibadah yang sah secara fikih, hidup secara spiritual, dan berdampak secara sosial.

Secara istilah: tunduk kepada Allah dengan tauhid, patuh dengan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik.

Dalil Al-Qur’an tentang Islam sebagai Jalan Ibadah
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. آل عمران [3]: 19)14
Islam menjadi kerangka normatif pelaksanaan ibadah yang diterima oleh Allah ﷻ.

Islam dalam Hadis
Dalam lanjutan hadis Jibril, Rasulullah ﷺ bersabda:
«الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلًا»
“Islam adalah engkau bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji jika mampu.” (HR. Muslim)15
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah struktur lahiriah ibadah, sedangkan iman adalah ruh batiniahnya.

Imam Ibn Taymiyyah menegaskan:
الدين اسم جامع للإسلام والإيمان والإحسان
“Agama adalah satu kesatuan yang mencakup Islam, iman, dan ihsan.”16

Maka ibadah yang benar harus berdiri di atas iman yang sahih dan islam yang lurus.

Korelasi Iman–Islam dalam Fiqh Ibadah

Dalam perspektif fikih:
Iman → syarat diterimanya amal
Islam → syarat sah pelaksanaan ibadah
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ﴾
“Barang siapa beramal saleh sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalnya.” (QS. الأنبياء [21]: 94)17

Penutup Sub-Bab (Alif)

Huruf Alif (أ) mengajarkan bahwa:
1. Ibadah tanpa iman adalah kosong
2. Iman tanpa islam tidak terwujud dalam amal
3. Fiqh ibadah harus dibangun di atas fondasi aqidah yang benar

Dengan demikian, iman dan islam adalah Alif-nya ibadah, titik awal sebelum berbicara tentang syarat, rukun, dan tata cara.

Catatan kaki:
1. Al-Lālikā’ī, Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahl al-Sunnah, 5/886.
2. Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Baqarah [2]: 21.
3. Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 8.
4. Al-Bukhārī, Khalq Af‘āl al-‘Ibād, hlm. 7.
5. Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Baqarah [2]: 208.
6. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 1/564.
7. Al-Qur’an al-Karim, QS. Yūnus [10]: 25.
8. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, 8/318.
9. Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Shu‘arā’ [26]: 89.
10. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 3/19.
11. Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Ḥashr [59]: 23.
12. Al-Qur’an al-Karim, QS. Luqmān [31]: 22.
13. Ibn al-Qayyim, Madārij al-Sālikīn, 1/100.
14. Al-Qur’an al-Karim, QS. Āli ‘Imrān [3]: 19.
15. Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 8.
16. Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 7/13.
17. Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Anbiyā’ [21]: 94.