Tarbiyah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Makna Tarbiyah
Secara etimologis, tarbiyah berasal dari akar kata ر ب و / ر ب ب, yang bermakna menumbuhkan, memelihara, dan menyempurnakan secara bertahap. Ibn Fāris menjelaskan bahwa seluruh derivasi kata rabb kembali pada makna al-iṣlāḥ wa al-tanmiyah (perbaikan dan pengembangan).^1
Al-Qur’an menegaskan Allah sebagai Rabb al-‘Ālamīn
لْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (QS. al-Fātiḥah [1]: 2), yaitu Zat yang tidak hanya menciptakan, tetapi juga mendidik dan menumbuhkan makhluk-Nya menuju kesempurnaan fitrahnya.
Secara terminologis, tarbiyah adalah: Proses pembinaan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menumbuhkan seluruh potensi fitrahnya—iman, akal, akhlak, dan amal—di bawah bimbingan wahyu.
Makna ini sejalan dengan pandangan al-Rāghib al-Aṣfahānī bahwa tarbiyah adalah tanmiyat al-shay’ shay’an fa-shay’an ilā ḥadd al-kamāl (menumbuhkan sesuatu tahap demi tahap hingga mencapai kesempurnaan).^2
Hakikat Tarbiyah
Hakikat tarbiyah terletak pada pengembangan fitrah manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan membawa potensi keimanan:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. al-Rūm [30]: 30)
Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa fitrah manusia mencakup kecenderungan kepada kebenaran dan tauhid, namun fitrah tersebut memerlukan tarbiyah agar tetap lurus dan berkembang.^3 Tanpa tarbiyah, fitrah dapat tertutupi oleh lingkungan, hawa nafsu, dan syubhat.
Dengan demikian, tarbiyah bukan menciptakan sesuatu yang baru, tetapi mengaktifkan dan mengarahkan potensi bawaan manusia agar selaras dengan kehendak Allah SWT.
Tarbiyah dan Ta‘līm: Distingsi Konseptual
Al-Qur’an menggunakan istilah ta‘līm ketika menegaskan aspek pengajaran ilmu:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al-‘Alaq [96]: 5)
Namun, tarbiyah memiliki cakupan yang lebih luas. Al-Ghazālī menegaskan bahwa ilmu tanpa tarbiyah hanya akan melahirkan kecerdasan yang kering dari akhlak, bahkan bisa menjadi sarana kesombongan.^4
Perbedaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Ta‘līm berfokus pada transfer pengetahuan sementara Tarbiyah berfokus pada transformasi kepribadian.
2. Dalam tarbiyah Qur’ani, ta‘līm berfungsi sebagai instrumen, sementara tarbiyah adalah tujuan dan kerangka besarnya.
Pertumbuhan Manusia dalam Perspektif Tarbiyah Islam
1. Pertumbuhan Alami (al-Nushū’ al-Ṭabī‘ī)
Pertumbuhan ini bersifat biologis dan otomatis. Al-Qur’an menggambarkan proses ini secara jelas:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِير
“Allah menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat…” (QS. al-Rūm [30]: 54) Namun, pertumbuhan fisik tidak identik dengan kedewasaan iman dan akhlak.
2. Pertumbuhan yang Dicari (al-Nushū’ al-Maqṣūd)
Inilah pertumbuhan yang disengaja melalui tarbiyah. Allah mengaitkan hidayah dan kedewasaan spiritual dengan kesungguhan usaha:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. al-‘Ankabūt [29]: 69)
Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa jiwa manusia, seperti tubuh, membutuhkan nutrisi. Jika tubuh diberi makan tetapi jiwa dibiarkan lapar, maka yang tumbuh hanyalah jasad, bukan kepribadian.^5
Konsep Tarbiyah Qur’ani dan Nabawi
1. Tarbiyah Qur’ani
Tarbiyah Qur’ani memiliki ciri-ciri utama:
1. Tauhid sebagai fondasi (QS. Luqmān [31]: 13)
2. Tadarruj (bertahap) dalam pembinaan (QS. al-Isrā’ [17]: 106)
3. Keseimbangan antara iman dan amal (QS. al-‘Aṣr [103]: 1–3)
Al-Shāṭibī menjelaskan bahwa syariat diturunkan untuk membina manusia secara bertahap sesuai kesiapan psikologis dan sosialnya.^6
2. Tarbiyah Nabawi
Rasulullah ﷺ adalah murabbi par excellence. Metode tarbiyah beliau meliputi:
1. Keteladanan (uswah) (QS. al-Aḥzāb [33]: 21)
2. Pembiasaan amal meski sedikit (HR. Bukhārī dan Muslim)
3. Pendekatan personal dan kontekstual
قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
«خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَلَا قَالَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَهُ؟»
Anas bin Malik bersaksi: “Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa tarbiyah Nabawi tidak bersifat represif, tetapi humanis dan penuh hikmah.
Urgensi Tarbiyah bagi Individu dan Peradaban
1. Para ulama sepakat bahwa kekuatan umat bertumpu pada tarbiyah.
Ḥasan al-Bannā menyatakan: “Membangun individu muslim adalah fondasi membangun keluarga, masyarakat, dan negara.”^7
2. Tanpa tarbiyah:
a. ilmu kehilangan orientasi,
b. iman kehilangan daya hidup,
c. dan peradaban kehilangan ruhnya.
Kesimpulan
Tarbiyah dalam Islam adalah proses ilahiah yang berakar pada wahyu, dicontohkan oleh Nabi ﷺ, dan dikembangkan oleh para ulama sepanjang sejarah. Ia bertujuan menumbuhkan manusia seutuhnya—bukan hanya cerdas, tetapi juga sadar akan tanggung jawab spiritual dan sosialnya.
Catatan Kaki
1. Ibn Fāris, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah (Beirut: Dār al-Fikr), jil. 2, hlm. 381.
2. al-Rāghib al-Aṣfahānī, al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān (Damaskus: Dār al-Qalam), hlm. 336.
3. Ibn Taymiyyah, Dar’ Ta‘āruḍ al-‘Aql wa al-Naql (Riyadh: Jāmi‘at al-Imām), jil. 8, hlm. 432.
4. al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah), jil. 1, hlm. 17.
5. Ibn al-Qayyim, Miftāḥ Dār al-Sa‘ādah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah), jil. 1, hlm. 82.
6. al-Shāṭibī, al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Sharī‘ah (Kairo: Dār Ibn ‘Affān), jil. 2, hlm. 168.
7. Ḥasan al-Bannā, Majmū‘at Rasā’il al-Imām al-Shahīd (Kairo: Dār al-Da‘wah), hlm. 134.






